Jumat, 16 Mei 2014


PERTANIAN DAN PEMUDA MASA KINI
Pertanian merupakan salah satu sektor yang diunggulkan di Indonesia. Indonesia dikenal sebagai Negara Agraris yaitu Negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Bahkan sebagian besar lahan di Indonesia dipenuhi dengan tanaman pertanian. Namun, identitas tersebut kini mulai luntur. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya : lahan Pertanian yang semakin lama terus menyempit dan infrastruktur yang tidak terawat sehingga banyak yang rusak, bahkan Indonesia mempunyai masalah yang sangat serius dalam sumber daya manusia dalam pertanian. Contohnya di daerah Jawa Barat 40 persen petani rata-rata berusia diatas 50 tahun. Selain itu, generasi muda berkualitas masa kini enggan lagi untuk mengelola lahan pertanian dan akhirnya lahan pertanian tersebut direlokasi sebagai bangunan perumahan hingga bangunan bertingkat.
Pertanian  identik dengan pekerjaan orang tua renta dan tak memiliki pilihan pekerjaan yang lain, sementara para pemuda lebih memilih pekerjaan yang lain yang menurut mereka lebih menjanjikan dan bergengsi. Dilihat dari profil petani yang ada di Indoneisa, kebanyakan petani yang tak berdaya dan sering di berdayakan melalui beberapa program baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Namun, dalam kenyataannya masih banyak petani yang hidup dibawah garis kemiskinan. Belum lagi bermasalah dengan kekeringan, hujan yang berlebih, cuaca yang tidak menentu dan berbagai serangan hama penyakit.
Generasi muda di Indonesia lebih menyukai hal-hal yang bersifat teknologi, kreasi, seni dan olahraga dibandingkan harus berkotor-kotoran, berkebun di sawah, harus mencangkul, serta  membajak sawah, karena mereka berpikir gengsi dan juga harga diri lebih penting dari pada meningkatkan pertanian Indonesia. Mereka mulai terhipnotis oleh budaya-budaya luar yang memberikan segala hal yang membuat mereka lebih terpandang oleh orang lain, tanpa memikirkan dari mana nasi, ayam, ikan, sayur-mayur serta daging yang mereka makan sehari-hari. Mereka hanya berpikir bertani hanya dikerjakan oleh kaum bawah, pekerjaan kotor, tidak keren dan juga tidak akan terpandang jika dinilai orang. Mereka tidak berpikir banyak petani di Indonesia yang sudah sukses, memiliki banyak lahan, semua hasilnya di ekspor ke luar negri dan sukses dibandingkan orang-orang yang berada diperkotaan. Minimnya pengetahuan akan pertanian memberikan efek yang kuat dalam menurunkan minat para pemuda untuk memilih terjun ke dalam dunia pertanian.
Dengan kepemilikan lahan yang rata-rata kurang dari 0,5 hektar, infrastruktur pertanian yang kurang memadai, organisasi petani dan kualitas sumberdaya manusia yang lemah, masih rendahnya dukungan kelembagaan dan manajemen pengelolaan pertanian yang belum mengarah ke kaidah bisnis, telah mengakibatkan usahatani menjadi kurang menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber pendapatan untuk hidup secara layak. 
Bidang pertanian pada umumnya di Indonesia memang belum memberikan nilai tambah yang tinggi baik bagi pendapatan, kesejahteaan serta bagi pengembangan karir. Dengan kata lain, bekerja di bidang pertanian agak sulit memproyeksikan masa depan. Sehingga sulit bagi para pemuda untuk menekuninya karena hal yang tak menjajikan tersebut.
Kebijakan pemerintah di bidang pertanian belum mengarah kepada pembinaan calon-calon agribusinessman yang kreatif. Banyak calon mahasiswa yang belum tahu bagaimana prospek agribisnis jika ditekuni dengan menggunakan kombinasi keilmuan dan keahlian lapangan (manajemen) yang baik. Banyak juga agribusinessman yang bahkan lebih sukses dari mereka yang bekerja di bidang lain.
Secara makro, sektor pertanian memang masih cenderung dianaktirikan dibandingkan sektor industri, jasa, keuangan perbankan, pertambangan, dan sebagainya. Petani biasanya dianggap hanya sebagai tukang tanam, tukang pelihara.
Pada pedesaan generasi muda biasanya dilahirkan dan dibesarkan oleh kaum tani, tetapi tidak jarang generasi muda tersebut enggan dalam melanjutkan profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih cenderung untuk memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan mereka. Sebagaimana misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian besar mereka berpikir untuk mengadu nasib dikota-kota besar yang sudah jarang adanya aktifitas pertanian seperti Kota Jakarta, hal tersebut dapat kita lihat pada pasca lebaran yang menyebabkan banyaknya urbanisasi warga desa ke kota.
Selain itu ditinjau dalam dunia pendidikan, semakin sedikit para lulusan SMA yang memilih pertanian sebagai bidang studi yang mereka jalani. Sebagai contoh Dalam Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negri (SNMPTN) tahun ini tersisa 2894 kursi kosong atau sekitar 50 persen pada program studi pertanian dan peternakan di 47 PTN di seluruh Indonesia. Kejadian ini sangat ironis, karena pertanian yang merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Indonesia, kini bidang studinya makin kurang diminati, ironis berlanjut ketika para lulusan perguruan-perguruan tinggi lulusan studi pertanian kebanyakan memilih pekerjaan diluar pertanian seperti perbankan, perindustrian dibanding pertanian.
Oleh karena itu, Pemuda dan pertanian tidak dapat dipisahkan karena pemuda berperan penting dalam meningkatkan kreatifitas dalam bertani, tanpa pemuda yang bersemangat dan kreatif suatu negara tidak mungkin akan sukses. Tetapi kenyataanya pada saat ini sektor pertanian kurang diminati oleh para pemuda, karena bekerja di bidang pertanian dianggap sebagai pekerjaan kasar, kotor dan jorok, bekerja di bawah cuaca panas. Keadaan ini umumnya dianggap bukan impian ideal para mahasiswa. Biasanya mahasiswa memimpikan bekerja di ruangan ber-ac lengkap dengan komputer dan internet. Selain itu, Umumnya calon mahasiswa dan mahasiswa sendiri menganggap bekerja di sektor pertanian tidak memberikan pendapatan yang tinggi dibanding bekerja di bidang keuangan perbankan, pertambangan, dan sebagainya.
Adapun untuk meningkatkan peran pemuda dalam peningkatan aktifitas sosial dapat dilakukan dengan cara Peningkatan tingkatan taraf hidup masyarakat desa sehingga dapat bersaing dengan masyarakat kota, Peningkatan sumber daya manusia terutama pemuda dalam peran aktif di sektor pertanian, Pemuda yang harus lebih aktif dan selektif dalam memilih jurusan di Universitas, Perubahan cara bertani masyarakat desa yang kurang modern, Pemuda harus bisa lebih giat dalam peningkatan pertanian Indonesia, serta Pemuda juga harus sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa adanya petani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar