PERTANIAN
DAN PEMUDA MASA KINI
Pertanian merupakan salah satu sektor yang
diunggulkan di Indonesia. Indonesia dikenal sebagai Negara Agraris yaitu Negara
yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Bahkan sebagian
besar lahan di Indonesia dipenuhi dengan tanaman pertanian. Namun, identitas
tersebut kini mulai luntur. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor yang
mempengaruhinya, diantaranya : lahan Pertanian yang semakin lama terus
menyempit dan infrastruktur yang tidak terawat sehingga banyak yang rusak,
bahkan Indonesia mempunyai masalah yang sangat serius dalam sumber daya manusia
dalam pertanian. Contohnya di daerah Jawa Barat 40 persen petani rata-rata
berusia diatas 50 tahun. Selain itu, generasi muda berkualitas masa kini enggan
lagi untuk mengelola lahan pertanian dan akhirnya lahan pertanian tersebut
direlokasi sebagai bangunan perumahan hingga bangunan bertingkat.
Pertanian identik
dengan pekerjaan orang tua renta dan tak memiliki pilihan pekerjaan yang lain,
sementara para pemuda lebih memilih pekerjaan yang lain yang menurut mereka
lebih menjanjikan dan bergengsi. Dilihat dari profil petani yang ada di
Indoneisa, kebanyakan petani yang tak berdaya dan sering di berdayakan melalui
beberapa program baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Namun, dalam
kenyataannya masih banyak petani yang hidup dibawah garis kemiskinan. Belum
lagi bermasalah dengan kekeringan, hujan yang berlebih, cuaca yang tidak
menentu dan berbagai serangan hama penyakit.
Generasi muda di Indonesia lebih menyukai
hal-hal yang bersifat teknologi, kreasi, seni dan olahraga dibandingkan harus
berkotor-kotoran, berkebun di sawah, harus mencangkul, serta membajak sawah, karena mereka berpikir gengsi
dan juga harga diri lebih penting dari pada meningkatkan pertanian Indonesia.
Mereka mulai terhipnotis oleh budaya-budaya luar yang memberikan segala hal
yang membuat mereka lebih terpandang oleh orang lain, tanpa memikirkan dari
mana nasi, ayam, ikan, sayur-mayur serta daging yang mereka makan sehari-hari.
Mereka hanya berpikir bertani hanya dikerjakan oleh kaum bawah, pekerjaan
kotor, tidak keren dan juga tidak akan terpandang jika dinilai orang. Mereka
tidak berpikir banyak petani di Indonesia yang sudah sukses, memiliki banyak
lahan, semua hasilnya di ekspor ke luar negri dan sukses dibandingkan
orang-orang yang berada diperkotaan. Minimnya pengetahuan akan pertanian
memberikan efek yang kuat dalam menurunkan minat para pemuda untuk memilih terjun
ke dalam dunia pertanian.
Dengan kepemilikan
lahan yang rata-rata kurang dari 0,5 hektar, infrastruktur pertanian yang
kurang memadai, organisasi petani dan kualitas sumberdaya manusia yang lemah,
masih rendahnya dukungan kelembagaan dan manajemen pengelolaan pertanian yang
belum mengarah ke kaidah bisnis, telah mengakibatkan usahatani menjadi kurang
menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber
pendapatan untuk hidup secara layak.
Bidang pertanian pada umumnya di Indonesia
memang belum memberikan nilai tambah yang tinggi baik bagi pendapatan,
kesejahteaan serta bagi pengembangan karir. Dengan kata lain, bekerja di bidang
pertanian agak sulit memproyeksikan masa depan. Sehingga sulit bagi para pemuda
untuk menekuninya karena hal yang tak menjajikan tersebut.
Kebijakan pemerintah di bidang pertanian belum
mengarah kepada pembinaan calon-calon agribusinessman yang kreatif. Banyak
calon mahasiswa yang belum tahu bagaimana prospek agribisnis jika ditekuni
dengan menggunakan kombinasi keilmuan dan keahlian lapangan (manajemen) yang
baik. Banyak juga agribusinessman yang bahkan lebih sukses dari mereka yang
bekerja di bidang lain.
Secara makro, sektor pertanian memang masih
cenderung dianaktirikan dibandingkan sektor industri, jasa, keuangan perbankan,
pertambangan, dan sebagainya. Petani biasanya dianggap hanya sebagai tukang
tanam, tukang pelihara.
Pada pedesaan generasi muda biasanya dilahirkan dan dibesarkan oleh
kaum tani, tetapi tidak jarang generasi muda tersebut enggan dalam melanjutkan
profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih cenderung untuk
memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan mereka. Sebagaimana
misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian besar
mereka berpikir untuk mengadu nasib dikota-kota besar yang sudah jarang adanya
aktifitas pertanian seperti Kota Jakarta, hal tersebut dapat kita lihat pada
pasca lebaran yang menyebabkan banyaknya urbanisasi warga desa ke kota.
Selain itu ditinjau dalam dunia pendidikan, semakin sedikit para
lulusan SMA yang memilih pertanian sebagai bidang studi yang mereka jalani.
Sebagai contoh Dalam Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negri (SNMPTN)
tahun ini tersisa 2894 kursi kosong atau sekitar 50 persen pada program studi
pertanian dan peternakan di 47 PTN di seluruh Indonesia. Kejadian ini sangat
ironis, karena pertanian yang merupakan sumber utama kehidupan masyarakat
Indonesia, kini bidang studinya makin kurang diminati, ironis berlanjut ketika
para lulusan perguruan-perguruan tinggi lulusan studi pertanian kebanyakan memilih
pekerjaan diluar pertanian seperti perbankan, perindustrian dibanding
pertanian.
Oleh karena itu, Pemuda dan pertanian tidak
dapat dipisahkan karena pemuda berperan penting dalam meningkatkan kreatifitas
dalam bertani, tanpa pemuda yang bersemangat dan kreatif suatu negara tidak
mungkin akan sukses. Tetapi kenyataanya pada saat ini sektor pertanian kurang
diminati oleh para pemuda, karena bekerja di bidang pertanian dianggap sebagai
pekerjaan kasar, kotor dan jorok, bekerja di bawah cuaca panas. Keadaan ini
umumnya dianggap bukan impian ideal para mahasiswa. Biasanya mahasiswa
memimpikan bekerja di ruangan ber-ac lengkap dengan komputer dan internet. Selain
itu, Umumnya calon mahasiswa dan mahasiswa sendiri menganggap bekerja di sektor
pertanian tidak memberikan pendapatan yang tinggi dibanding bekerja di bidang
keuangan perbankan, pertambangan, dan sebagainya.
Adapun untuk meningkatkan peran pemuda dalam
peningkatan aktifitas sosial dapat dilakukan dengan cara Peningkatan tingkatan
taraf hidup masyarakat desa sehingga dapat bersaing dengan masyarakat kota, Peningkatan
sumber daya manusia terutama pemuda dalam peran aktif di sektor pertanian, Pemuda
yang harus lebih aktif dan selektif dalam memilih jurusan di Universitas, Perubahan
cara bertani masyarakat desa yang kurang modern, Pemuda harus bisa lebih giat
dalam peningkatan pertanian Indonesia, serta Pemuda juga harus sadar bahwa kita
tidak bisa hidup tanpa adanya petani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar